TREN Kuliner Terbaru

Kumpulan Informasi Kuliner Nusantara

TREN Kuliner Terbaru

Kumpulan Informasi Kuliner Nusantara

Comfort Food, Tren Kuliner Selama Pandemi – Terkadang makan menjadi aktivitas untuk melepaskan diri dari situasi yang tidak menyenangkan. Apalagi dalam pandemi yang sama sekali tidak menentu, makanan tampaknya bisa membantu. Chef dan pakar kuliner William Wongso mengemukakan, makanan yang dijual bisa menghadirkan kenyamanan makanan.

Comfort Food, Tren Kuliner Selama Pandemi

comfort-food-tren-kuliner-selama-pandemi

tsfska – William mengatakan pada konferensi media virtual yang diadakan dengan FoodieS di Best Eats Cares: “Saya pikir [terobosan dan inisiatif] telah banyak membantu dalam makanan yang menenangkan secara umum.

Sesuai dengan namanya, comfort food mengacu pada makanan yang membuat konsumen merasa nyaman. Dalam artikel yang diterbitkan di International Journal of Gastronomy and Food Science, makanan ini dikaitkan dengan kandungan kalori tinggi dan sering dikaitkan dengan diet anak-anak dan keluarga.

Umumnya, comfort food tersaji dalam hidangan bergaya tradisional dan mengakibatkan nostalgia kampung halaman, keluarga, atau teman.

Melihat pengertian ini, comfort food dapat tidak sama pada masing-masing orang. Tak heran jika comfort food bikin orang Amerika dapat tidak sama dengan orang Indonesia. Buat orang Indonesia, comfort food dapat bersifat nasi goreng, bubur ayam, bakso, mi instan, juga soto ayam.

“Siapa pun tidak dapat melakukan perkiraan ke depan. Setahun ke depan apa yang mesti dilakukan. Kita semua paham penduduk mesti makan makanan yang praktis, penuh gizi, dan harga yang realistis. Itu target market yang mesti dipikirkan dalam suasana ini,” imbuh William.

Sementara itu, koki sekaligus pebisnis kuliner, Fernando Sindu, bercerita pandemi memaksa grup restorannya untuk melakukan adaptasi. Restoran yang mulanya berkonsep casual fine dining berubah menjadi sajian comfort food.

Berpacu dengan peraturan pengurangan kapasitas dan jam operasional, restoran pun mengimbuhkan layanan pesan-antar ke rumah. Tidak cuma mengandalkan layanan ojek daring, staf restoran pun ikut turun ke ‘medan perang’.

“Sekarang secara plus minus, gimana barangkali dapat profit jika 1/2 kapasitas dan waktu? Ujung-ujungnya kita memiliki kemampuan untuk adaptasi dengan memperkecil ongkos [biaya produksi],” ujarnya dalam kesempatan serupa.

Dia bercerita, kala bulan puasa dan Lebaran kemarin, restorannya berinovasi dengan comfort food dalam kemasan rantang. Meski menu-menunya cenderung menu rumahan yang sederhana, namun makanan dihidangkan dengan style khasnya.
Kesempatan untuk Siapa Saja

Selain mendapat tantangan, rupanya dunia kuliner menjadi wadah terbuka untuk siapa pun masuk. Jika Anda menyadari, kini jadi banyak dan begitu banyak ragam bisnis kuliner rumahan dengan menu-menu sederhana.

“Satu keuntungan di Indonesia, tidak ada peraturan ketat [terkait bisnis kuliner rumahan] seperti di Singapura, negara-negara Barat. Semua rumah dapat bikin makanan jual, tanpa izin [resmi]. Ini dapat mendukung perekonomian di Indonesia,” kata William.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *